relawan diantara ranjang rumah sakit

Menjadi seorang relawan merupakan tindakan kemanusiaan yang sangat nyata. Banyak kalangan yang tertarik untuk menjadi relawan, baik itu para anak muda yang belum menamatkan pendidikan atau para orang dewasa yang sudah sukses. Para relawan tidak hanya ditempatkan di daerah bencana atau daerah konflik, tapi juga di berbagai rumah sakit untuk mendampingi pasien dengan penyakit beresiko tinggi.

relawan Gerak Bareng

berbagai jenis penyakit beresiko tinggi yang membahayakan keselamatan jiwa bisa menyerang siapa saja tidak peduli usia dan status sosialnya. Banyak diantara para pasien dengan penyakit berat berasal dari kalangan ekonomi rendah. Penyakit berat yang di deritanya bukan hanya mempengaruhi kondisi fisiknya, namun juga kondisi sosial, ekonomi, psikologi dan spiritual mengalami perubahan yang sangat besar.

Dari data yang dihimpun, 80% pasien kanker dan tumor dari kalangan ekonomi rendah memilih untuk tidak menjalani pengobatan medis sejak dini , dan akhirnya baru menempuh jalur medis ketika sudah dalam tahap kronis dan stadium lanjut.

“tidak sedikit dari mereka karena menunda pengobatan medisnya dengan beberapa alasan dan mencoba melakukan pengobatan non medis,” tutur dr. Irene, dosen fakultas kesehatan masyarakat dan keperawatan UGM.

Hal ini menurut Irene, dikarenakan kekhawatiran mereka akan biaya yang besar dan ketidakmampuan mereka dalam mengakses informasi pelayanan kesehatan yang dibutuhkan. Maka dari itu mereka lebih memilih pengobatan dengan jalur alternatif yang cenderung murah. Selain lebih mudah dijangkau, hal ini menurut dr.Irene dikarenakan masyarakat menengah kebawah masih sangat percaya dengan dukun, dan tabib. sehingga mereka merasa do’a dan persembahan-persembahan dapat menyembuhkan penyakit mereka tanpa pengobatan medis.

Ditambah lagi, pengobatan alternatif kerapkali beriklan dengan testimoni-testimoni palsu yang membuat para pasien dan keluarganya percaya dan yakin akan kehebatan pengobatan tersebut.

Untuk itu, relawan sangat diperlukan peranannya untuk mendampingi dan membantu para pasien untuk menjangkau pelayanan medis yang telah dijamin oleh pemerintah.

Dengan didampingi oleh relawan, diharapkan pasien dan keluarganya bukan hanya dimudahkan dalam pelayanan kesehatan namun juga mendapatkan dukungan moriil dan meringankan beban psikologis pasien dan keluarganya.

Tak dapat dipungkiri, perawatan bagi penyakit beresiko tinggi adalah proses panjang yang melelahkan jiwa dan raga. Para pasien mengalami banyak hal yang kurang menyenangkan selama proses pengobatan. Mulai dari rasa bosan, hingga rasa sakit yang bertambah-tambah.

Maka para relawan bukan hanya bertugas mempermudah mereka mengakses perawatan medis namun juga menginisiasi aktivitas untuk membuat pasien bahagia, serta menjadi teman bicara bagi para keluarga pasien demi meringankan beban psikologis mereka.

Minimnya info tentang penyakit berat di lingkungan masyarakat terkadang menyebabkan para pasien dan keluarganya bukan mendapatkan dukungan malah diasingkan dan dijauhi oleh masyarakat karena kekhawatiran mereka akan tertular penyakit. Hal ini juga yang menjadi concern bagi para relawan pendampingan pasien untuk memberi edukasi dan pemahaman pada masyarakat luas tentang penyakit beresiko tinggi.

 Kini, di setiap rumah sakit-rumah sakit besar di berbagai daerah, kita dapat dengan mudah menemukan para relawan pendamping pasien dari berbagai komunitas dan yayasan yang bergerak di bidang kesehatan.

Mereka mendampingi para pasien tidak mengharapkan imbalan uang, namun mereka bergerak atas dasar kemanusiaan. Tak jarang , para relawan tersebut  berjibaku dengan waktu untuk antri di beberapa loket agar pasien dampingannya tidak terlambat menjalani kemoterapi ataupun operasi.

relawan merangkul anak-anak dari berbagai kalangan

Faizah, salah satu relawan pendampingan pasien Gerak Bareng menuturkan, “menjadi relawan adalah bentuk manifestasi rasa syukurku atas hidup yang Allah berikan. Aku ingin menjadi bermanfaat bagi sesama, jadi hidupku ga kosong dan punya makna paling tidak bagi diriku sendiri.”

Lain lagi dengan Dina, bergabung dengan Gerak Bareng dan menjadi relawan pendampingan pasien banyak mengajarkannya tentang nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini ia kira telah pupus dari masyarakat Indonesia. Ia menyebutkan bahwa selama mendampingi pasien, tak jarang ia merasa kelelahan dan bosan, namun kembali ia mengingat tujuan utama ia dalam menjalani peran kerelawanannya adalah lillahi ta’ala.

“kalo lillah, insyaa Allah ga lelah.” Ujarnya.

Teman-teman relawan seringkali juga dibuat terharu dengan perlakuan istimewa dari para keluarga pasien yang mereka dampingi.  Keluarga pasien yang merasa terbantu dengan kehadiran relawan yang mendampingi mereka biasanya terikat secara emosional. Mereka memperlakukan para relawan pendamping tak ubahnya keluarga sendiri. Para relawan seringkali dibekali dengan berbagai oleh-oleh dan hasil kebun yang susah payah mereka bawa dari rumah untuk dihadiahkan pada para relawan.

Para dokter dan perawat di rumah sakit juga tak jarang berkomunikasi langsung dengan para relawan terkait dengan metode pengobatan yang akan dipakai karena menurut mereka, para relawan akan dapat menyampaikan berita tersebut dengan lebih baik pada para keluarga pasien.

Relawan pendampingan pasien tak ubahnya seperti rantai penyambung antara dokter dengan pasiennya. Mereka menjembatani kebutuhan pasien dengan pihak rumah sakit, mereka juga menjadi teman bicara bagi para keluarga pasien, serta menjadi penyambung lidah bagi para dokter.

Tak jarang, relawan juga harus melakukan penghimpunan donasi apabila kebutuhan medis pasien tidak tercover oleh jaminan kesehatan yang diberikan pemerintah.

Helvy Tiana Rosa, seorang penulis pernah menuliskan, “jalan yang ditempuh para relawan adalah jalan yang cinta yang paling murni. Jalan yang tak pernah membedakan bau darah seseorang”

Begitulah para relawan pendampingan pasien di rumah sakit. Mereka tak pernah membedakan pasien dampingannya. Mereka punya tangan paling lembut untuk menggandeng, namun juga bahu paling kuat untuk tempat bersandar.

Barakallahu fiikum, para relawan.

Semoga Allah selalu memberkahi.

Penyaluran Bantuan Peduli Korban Kebakaran Asrama Putri Institut Ilmu Qur’an

Pada 12 Oktober 2018 lalu musibah kebakaran dialami oleh saudara Muslimah kita di kampus Institut Ilmu Al Qur’an Jakarta.

IIQ Jakarta
Dokumentasi Gerak Bareng

Sekitar 200 mahasiswi tak menyangka api menghanguskan gedung asrama 2 IIQ, Jalan M Toha, Pamulang Timur, yang mereka tinggali. 

Mereka menyelamatkan diri dengan hanya membawa Mushaf dan apa yang mereka kenakan. 

“Alhamdulillah kalo makanan kita dapat mudah dari mana saja,”


tutur Salwa, salah satu penyintas kebakaran.

Namun untuk pakaian, jilbab, peralatan belajar, tas sampai sepatu lenyap terbakar.

Syukurlah setelah sebulan berlalu, Tim Gerak Bareng datang kembali ke kampus tersebut dengan memberikan uang tunai Rp14.400.000,00 untuk kelanjutan pembangunan kembali asrama putri.

asrama putri iiq jakarta
Dokumentasi Gerak Bareng

Yuk, sama-sama kita bantu saudara-saudara kita Penuntut Ilmu Al Quran ini agar bisa menjalani proses pendidikannya dengan baik seperti sedia kala pasca musibah kebakaran.

Kamu bisa ikut membantu para penyintas musibah lain dengan melakukan donasi ke:

Donasi Gerak Bareng untuk Rekening Kemanusiaan

BCA 20 6789 2000

BSM 780 780 6879

Atas nama Yayasan Komunitas Gerak Bareng

Mendengarkan Suara Hati Penyandang Disabilitas

Sabtu, 13 April 2019 Bang Zaki mengundang sekitar 20 penyandang disabilitas tuna netra untuk berbincang. Acara ini diadakan untuk curah gagasan atas kebutuhan para penyandang tuna netra yang mungkin dapat difasilitasi oleh Gerak Bareng.

Mereka yang datang dari Meruya, Jakarta Barat, rata-rata berprofesi sebagai penjaja kerupuk ikan keliling untuk memenuhi kebutuhannya. Alasannya sederhana, ingin membuktikan bahwa menjadi tuna netra tidak membatasi ruang gerak mereka.

Continue reading